Bismillah..
Itulah niat yang saya ucapkan ketika memutuskan untuk tidak berpacaran lagi, dan serius mencari calon isteri.
Beragam pertanyaan terbersit difikiran saya, apakah mungkin menikahi seorang gadis baik-baik tanpa dipacari terlebih dahulu? apakah ada gadis yang bersedia menerima seorang lelaki yang baru dikenalnya dan kemudian menikah dengannya?
Pertanyaan diatas terjawablah sudah pada tanggal 16 Mei 2010, ketika saya menikahi seorang gadis yang sekarang menjadi istri tanpa melalui proses berpacaran dahulu.
Mengapa tidak berpacaran dahulu? ada beberapa alasan yang menyebabkan tidak berpacaran. Pertama karena memang di agama sebenarnya pun tidak ada yang dinamakannya pacaran, sehingga aku memutuskan ‘bismillah’ untuk tidak mencari pacar tapi mencari calon isteri. Kedua, kondisi pekerjaan yang tidak memungkinkan, dengan load yang kejar setoran terus, sehingga dituntut untuk fokus menyelesaikan pekerjaan.
Memang jodoh adalah kekuasaan Tuhan, yang perlu kita lakukan adalah berikhtiar dan memohon kepada-Nya untuk dipilihkan yang terbaik menurut-Nya, bukan menurut kita. Karena yakinlah Tuhan Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan.
Berawal dari keniscayaan tentang bagaimana mendapatkan pasangan, teringat nasihat para Guru Ngaji dahulu, “berdo’alah, berusalah mendekat kepada-Nya, Insya Allah do’a mu terkabul”. Saya pun berdo’a siang malam bermohon diberikan jodoh. Semua keraguan tentang apakah Tuhan berkenan mengabulkan do’a saya, sedikit demi sedikit berusaha dibuang.
Alhamdulillah, jalan itu pun terbuka. Entah mengapa suatu ketika saya lihat ada foto perempuan yang terselip di “facebook”, entah meskipun banyak cemooh tentang perkenalan di dunia maya, tetapi ku rasakan hal yang berbeda.
Perkenalan dimulai, dari niat tidak berpacaran. Tetapi perkenalan pribadi untuk mencari sosok pasangan menikah.
Waktu yang diperlukan pun tidaklah terlalu lama. 1 minggu saling mengenal lewat telepon. 1 jam untuk bertemu, keesokan harinya, satu malam bermunajat, saya putuskan besoknya untuk melamar.
Dengan niat hanya karena Allah, untuk menjalankan semua perintahnya dan menghindari semua larangannya, pernikahan pun berlangsung dengan sangat sederhana. Tetapi, makna dari pernikahan tersebut tidaklah berkurang -setidaknya itu yang ku rasakan.
Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Kini saya dan istri tengah dikarunia magfirah atau karunia dengan akan hadirnya putera.
Cerita pribadi ini saya tulis bukan untuk menjadi ujub takabur dengan pengalaman semua itu, akan tetapi mudah-mudahan ada orang yang dapat memetik nilai baik dari pengalaman pribadi kami.
Singkatnya :
1. Jangan pernah takut untuk membuat keputusan untuk menikah, selama diawali dengan niat baik, bertanggung jawab, Insya Allah akan ada jalan.
2. Allah memiliki beragam cara untuk membuat sesuatu terjadi, bahkan terkadang hal yang menurut kita mustahil, bermohonlah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh tanpa sedikitpun keraguan.
3. Ikhlas menerima keadaan pasangan dan mensyukuri kelebihan pasangan kita -apa pun itu, itu menjadi kunci untuk membuat proses penjajakan kita memilih pasangan tidaklah menjadi terlalu lama.
4. Yakinlah, Allah selalu mempunyai rencana baik terhadap hidup kita, sekalipun kita merasa sedang didera kesulitan sekalipun.
5. Segala sesuatu berawal dari niat, jika niat kita baik, insya Allah berakhir baik. Sekalipun lewat facebook kami mengenal, tetapi diawali niat baik, Alhamdulillah.
Semoga ada hikmahnya… mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.


